logo

DIRTY FEET / KAKI KOTOR

Dirty Feet
Akiq AW | Anang Saptoto | Edwin Roseno Kurniawan |Jim Allen Abel
Mella Jaarsma | Sara Nuytemans | Takashi Kuribayashi | Wok The Rock
 
Pembukaan
8 Juni 2014, 19.30dirty-feet
Pameran
9 – 17 Juni 2014, 09.00 – 17.00
Khusus untuk pameran ini kami BUKA SETIAP HARI.
Rumah Seni Cemeti
Jl. D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta

Munculnya youtube dan vimeo sebagai salah satu saluran penyebaran dan konsumsi video telah menjauhkan publik dari pengalaman melihat yang ‘meruang dan berdimensi sosial’. Medium sharing berbasis internet memang telah mendemokratisasi seni dan praktek-prakteknya di masyarakat, namun secara bersamaan juga menghilangkan unsur-unsur penting dari sebuah karya seni, diantaranya unsur interaksi, dialog dan kejutan. Kenyataannya, platform internet memiliki aturan yang disebut dengan protokol, dimana semua partisipan tunduk pada aturan itu.
Pameran ini akan mempersoalkan tentang gambar bergerak, khususnya pada pengalaman akan durasi dan pengalaman fisik akan ruang. Proyek ini pada dasarnya akan bertitik tolak atas bagaimana orang secara aktual hadir di sebuah ruang diantara orang lain, tentang ruang ilusi/imajiner dan ruang real. Pengalaman atas video sebagai bagian dari momen aktual menciptakan berbagai kemungkinan interaksi, yang mungkin spontan dan langsung, yang tidak saja tentang pengalaman melihat layar namun juga pengalaman dilihat dan saling melihat. Ini adalah sebuah pameran sebagai sebuah ritus sosial.

Seniman yang terlibat akan diminta untuk mengeksplorasi tema-tema tentang ‘kehadiran’, sebuah kesadaran untuk menciptakan ‘pengalaman’. Seniman dapat mempergunakan video atau gambar bergerak sebagai bagian dari instalasi untuk menciptakan pengalaman tersebut. Di sini video tidak hanya dilihat sebagai ruang imajiner yang hadir di sebuah layar; tetapi lebih pada ‘layar’ atau ‘proyeksi’ itu sendiri merupakan bagian dari sebuah situasi atau momen nyata.

Akiq AW

‘Most people gaze neither into the past nor the future; they explore neither truth nor lies. They gaze at the television.’

Home Schooling merupakan sebuah simulasi atas bagaimana saat ini kesadaran diri kita dibentuk oleh pengalaman dan pengetahuan yang termediasi. Televisi dan internet telah menggantikan forum-forum pengajaran, telah melampaui tulisan dan hikmah kehidupan sehari-hari. Ini bak jarum hipodermik yang menginfuskan nilai-nilai dan pengetahuan dengan cara yang cepat dan tidak mungkin kita tolak.

Tema-tema tentang televisi sudah lama diangkat dan selama ini tidak menarik minat saya, hingga kemudian memiliki anak dan menyadari betapa kuat daya hisapnya terhadap perhatian dan ingatan seorang anak. Saya membayangkan ketika anak-anak mendapatkan guru yang paling menyenangkan dan paling berpengaruh dalam hidupnya, yaitu televisi. Secara perlahan, kesadaran akan hubungan antara ‘indera’ dengan ‘perangkat’ ini menghilang, dan luruh menjadi sebuah kenyataan yang niscaya, ‘perangkat’ akan menghilang berubah menjadi ‘hakekat’.

Secara teknis, karya ini meminjam pendekatan interaktif yang dipakai dalam karya The Obliteration Room oleh Yayoi Kusama di GOMA, 2012, yaitu dengan meminta pengunjung untuk menempelkan stiker bulat ke seluruh bagian instalasi, namun dengan efek dan tujuan yang berbeda. Jika dalam The Obliteration Room, stiker berwarna akan memunculkan ledakan warna di dalam ruangan, dalam Home Schooling, stiker hitam justru akan menghilangkan benda-benda atau bagian-bagiannya, dan akhirnya akan luruh menjadi satu dengan latar.

Anang Saptoto

Akhir 2013, saya mulai mengamati jamur yang muncul di dinding rumah saya. Saya tinggal di sebuah perumahan tua di daerah Bantul. Jamur ini tumbuh karena disebabkan oleh dinding yang basah, entah karena ada saluran pipa air yang bocor atau memang tingkat kelembaban yang tinggi di perumahan ini. Semakin hari jamur tumbuh dan mulai menjalar.
Padatnya pemukiman, sirkulasi udara kurang baik dan kurangnya cahaya matahari yang masuk mengakibatkan dinding-dinding rumah di Yogyakarta rentan terhadapat tumbuhnya jamur. Dari catatan-catatan yang saya temukan, jika jamur tersebut terhirup maka akan mempengaruhi kondisi kesehatan paru-paru manusia, yang lebih parah dapat menimbulkan TBC (Tuberkolosis).

Selama 10 hari pameran, saya akan memproyeksi pertumbuhan jamur di salah satu sudut di galeri. Setiap hari saya akan memproyeksi video berdurasi 5 jam (dari jam buka hingga jam tutup galeri), dan sampai 10 hari durasi pameran (total durasi video 3000 menit/ 50 jam).Kita akan merasa bagaimana awalnya jamur itu mulai muncul dan kita masih bisa mengabaikannya. Mulai dari kecil hingga membesar setiap jam dan harinya. Pelan tapi pasti, proyeksi jamur tersebut akan mulai mengintimidasi manusia yang ada di sekitarnya.

Pada wilayah gagasan, jamur-jamur tersebut di proyeksi menggunakan medium video dengan skala 1:1 (live size). Harapannya adalah bagaimana gagasan tentang ukuran ini dapat lebih mendekatkan jarak maupun pengalaman antara penonton dengan sebuah persoalan yang terjadi saat ini, tentang suatu hal yang lebih luas, diluar obyek yang ditampilkan.

Edwin Roseno Kurniawan

Adalah pengalaman saya dalam membuat sebuah ekosistem kecil dalam sebuah tank yang lebih popular disebut aquarium, sesuai perkembangganya menjadi istilah baru yaitu aquascape yang lebih mengutamakan estetika dalam komposisi floranya dan fauna. Karena ekosistem ini adalah buatan maka semua yang alamiah digantikan oleh buatan, semisal untuk tumbuhnya tanaman dibutuhkan proses fotosintesa yang membutuhkan karbondioksida , zat hara dan air serta bantuan energi cahaya matahari. Cahaya matahari digantikan dengan lampu yang khusus yang menggunakan spectrum cahaya matahari, dan menggunakan tabung disposable CO2 serta pupuk cair sebagai pengganti zat hara. Jenis tanaman yang ditanam tanaman yang khusus seperti japan hairgrass dan glosso.

Aquascape ini selain sebagai sebuah ekosistem kecil dari bagian sebuah instalasi video, juga sebagai sebuah frame video non narrative. Instalasi ini menjadikan saya melihat di kekedalaman air dan melihat keironisan di alam ini beserta ekosistemnya.

Jim Allen Abel

MEDIA SOSIAL

“Perlakukan orang lain sebagaimana kamu mau diperlakukan”, ini merupakan suatu ide intuitif yang secara eksplisit tercakup dalam “aturan emas” atau hukum terutama yang hampir semua orang pelajari saat masih anak-anak.

Dalam karya ini, saya membuat simulasi sederhana tentang hubungan dan interaksi sosial dan untuk memahami beberapa hal sebagai berikut:

1.    Bagaimana hubungan-hubungan sosial membangun dirinya?
2.    Bagaimana interaksi sosial itu bekerja?
3.    Logika dan emosi seperti apa yang dibutuhkan agar interaksi itu berjalan dengan baik?
4.    Untuk memahami bahwa orang lain memiliki kepercayaan, keinginan dan intensi yang berbeda dari diri kita sendiri.
5.    Dan bagaimana konsep logika bekerja jika dibenturkan dengan hal-hal yang sifatnya emosional seperti simpati dan empati?

Dan untuk melihat dan memahami lebih jelas simulasi ini, aku mendorong keluar bentuk-bentuk yang mempengaruhi serta memotivasi persepsi secara rasional dan bersifat subjektif yang terlanjur melekat dalam setiap individual, dan kemudian menggantinya dengan media atau benda-benda yang sifatnya netral.

Sara Nuytemans

Karya saya didasarkan terutama pada pengamatan bagaimana manusia berinteraksi dengan dunia. Kenapa kita ada di sini? Apa peran kita sebagai manusia? Ini adalah pertanyaan mendasar dalam penelitian saya.

Kita hidup dalam dunia di mana prestasi keuangan, teknologi, sosial atau apa pun dianggap lebih penting daripada pelestarian alam. Kita nyaris menghancurkan planet ini habis-habisan, dan dengan demikian, membinasakan diri kita sendiri. Saya yakin bahwa jika kita mampu berfokus pada diri sendiri dan memandangnya sebagai sebuah dimensi lingkungan ketimbang sebagai agen, kita mungkin menemukan beberapa pemecahan dan akan mampu mempengaruhi lingkungan secara positif.
Dengan pemikiran ini, selama 3 tahun belakangan saya menciptakan karya dengan judul seri ‘Observatories of the Self’. “Observatorium” tersebut dirancang sebagai ruang atau konstelasi yang membantu pemirsanya masuk ke dalam lingkungan yang dapat membuka dirinya sendiri kepada permasalahan yang lebih luas–dapat berupa arti hidup, alam semesta, atau diri. “Observatorium” menggarisbawahi prinsip-prinsip fisika kuantum: Keyakinan membentuk pandangan seseorang atas kenyataan. Dalam konteks ini, ‘Observatories of the Self’ utamanya berperan sebagai ruang meditasi.
Sebelum memasuki instalasi Observatory of the Self 1.3’ (2013), pemirsa merekam dirinya sendiri dalam video. Pemirsa kemudian memasuki ‘Observatorium’. Di tengah ruang sebuah proyektor menembakkan citra (video) ke objek yang tersusun atas kurang lebih 28 cermin bundar berdiameter 8 cm. Perangkat ini berputar, memecah citra video menjadi elemen-elemen yang lebih kecil ketika ia memantul pada dinding di sekelilingnya.

Mella Jaarsma

Karya ini, ‘Messy (Under Cover II)’ adalah lanjutan performans ‘Under Cover’ yang saya tampilkan di tahun 2000. Performans ini adalah sebuah permainan dengan konotasi seksual.

Kenyataannya banyak orang menatap layar monitor selama berjam-jam setiap hari. Realitas mereka terjadi di dunia dua dimensi tersebut. Melalui dunia tersebut kita menjalani kehidupan dengan bersih dan terkendali tanpa mengotori tangan kita. Dalam performans ini saya mengundang publik dan mengkonfrontasi mereka dengan keberantakan dan kotoran. Konfrontasti tersebut membuka panca indera dan pemikiran, yang membentuk pemahaman atas keberadaan manusia di sini dan saat ini, dengan menarik perhatian bagi kebutuhan manusia.

Takashi Kuribayashi

Kita dapat melihat dan dilihat. Mengetahui yang tidak kamu ketahui.
Kita menyimpan rahasia.
Kami mengamati masyarakat jejaring modern yang kita tinggali dan kita bertanya-tanya apakah kita tidak akan segera tahu. Dapatkah kita menganggap sesuatu sebagai fakta ketika kita memandang sesuatu sebagai benar? Ada perbedaan antara kebenaran dan fakta, walaupun ia sangat sulit untuk dilihat secara akurat. Kita tidak bisa tak melihat ulang begitu kita tahu dan mengetahui.

Wok The Rock

Karya ini merupakan bagian dari proyek ‘The Golden Memories’ yang saya kerjakan pada tahun 2012 di Melbourne. Pada proyek ini saya mewawancarai orang-orang Indonesia yang tinggal di Melbourne. Ada 2 pertanyaan yang saya ajukan: Musik atau lagu apa yang membuat mereka rindu akan tanah airnya, dan bagaimana mereka mendengarkan musik. Jawaban dari pertanyaan kedua inilah yang mengantar saya pada karya ini. Hampir 70% dari responden mendengarkan musik melalui aplikasi YouTube di smartphone. YouTube memiliki banyak sekali koleksi ‘lagu’ yang diunggah oleh para penggunanya. Mendengarkan lagu secara streaming sangat mudah dilakukan dan tidak membebani kapasitas penyimpanan data. Video-video tersebut tidak hanya berupa video musik atau video klip, namun juga video yang gambarnya berupa sampul album musik atau slideshow foto. Saat mengakses video ini, para responden hanya mendengarkan lagunya saja karena smartphone-nya dimasukkan ke dalam saku. Video tidak hanya ditonton, tapi didengarkan. Batasan antara film dan musik menjadi ambigu.

Karya ini terdiri atas beberapa kartu berisi informasi responden dan QR code yang terhubung ke link video di YouTube. Kartu ini mengadopsi iTunes gift card. Melalui kartu ini penonton pameran diajak untuk merasakan pengalaman para responden dalam mendengarkan video.

Catatan:
Bagi pengguna smartphone, silakan menginstal aplikasi QR Code scanner dan membawa earphone sendiri.