logo

Beyond Coca-Cola (2006-2011)

Awal proyek ini pada pertengahan 2006, ketika saya pada waktu itu sedang mempersiapkan pameran tunggal pertama saya di Ruang Mes 56. Saya tertarik dengan lalu lalang orang orang desa di depan ikon dan Typografi yang sudah sangat mapan itu.

Saat itu saya mendapatkan pengalaman fotografis yaitu situasi dan peristiwa yang menarik dan hebat untuk saya rekam. Mungkin hal itu juga akan dialami oleh fotografer dokumenter lainnya. Saya mencoba merekam segala bentuk kemungkinan yang terjadi didepan warung coca cola itu. Karena aku pikir Coca cola dianggap sebagai ikon cosmopolitan,globalisme dan urban, sedangkan desa adalah agraris dengan dengan bermacam pirantinya. Tabrakan itulah yang menarik bagi saya, global dan lokal…agraris dan kota.

Proyek ini terus berlanjut dengan membandingkan dalam situasi yang berbeda ,Coca cola dan area kota. Elemen elemen subyek pun  beraneka ragam, dalam akifitas kota dengan berbagai lalu lalangnya dan Coca colanya yang tidak pernah berubah…coca cola tetaplah coca cola, jadi betapa hebat globalisasi itu.

Jantung Fotografi adalah pendokumentasian, bagaimana fotografi merekam orang, tempat dan kejadian dengan berbagai suasana.

Proyek fotografi ini adalah bentuk fotografi dokumenter dengan pemaparan yang personal, baru dan unik. Saya sendiripun selalu ingin tahu dan akan terus memotret situasi Coca cola di berbagai tempat. Situasi di Jakarta, Surabaya, Makasar, Medan, Bandung, Tokyo, New York, di Ibukota Timor Leste bahkan di Palestina…siapa tahu???

 

The starting point of this project was in the mid of 2006, while I was preparing my first solo exhibition at Ruang MES 56. I was deeply interested in the villagers who were passing by the well-established icon and typography. I obtained a photographic experience at that moment; an interesting and superb situation and occurrence to be recorded. Perhaps, similar experience could happen to other documentary photographers. I was attempting to record every single possibility that might happen in front of the Coca Cola stall. The reason is, because Coca Cola, in my opinion, is an icon of cosmopolitan, global and urban life, while a village is agriculturist along with any of its appliances. This collision is the one that interests me; global—local, urban—agricultural. The project is continuing by making a comparison within a different situation: Coca Cola and city area. The elements of the subjects are also varied, in between city’s activities with its heavy traffic; Coca Cola has never changed…Coca Cola stays Coca Cola, isn’t globalism amazing?

The heart of photography is documentation, how it records people, places, and events in various situations.

This photography project is a form of documentary photography with a personal, fresh and unique exposition. Even myself has always been and will be curious and I will keep on capturing Coca Cola in many more different places. In Jakarta, Surabaya, Makasar, Medan, Bandung, Tokyo, New York, Timor Leste, even in Palestina…who knows???

Date: December 27, 2006