logo

Seni Menambah Pekerjaan / The Art of Putting More Work by Syafiatudina (Penulis & Kurator)

IMG_9157 IMG_9159 IMG_9160 IMG_9161 IMG_9166 IMG_9168 IMG_9175 IMG_9176 IMG_9177 IMG_9183 IMG_9190 IMG_9191 DSC08758 DSC08762 DSC08763 DSC08764 DSC08786 DSC08796 DSC08801 DSC08802 DSC08808 DSC08844 DSC08848 DSC08849 DSC08853 DSC08856 DSC08874 DSC08884 DSC08898 DSC08904 DSC08905 DSC08906 DSC08907 DSC08908 DSC08909 DSC08916 DSC08917 DSC08918 DSC08925 DSC08931

 

scroll in english text

Seni Menambah Pekerjaan

 Oleh Syafiatudina ( Penulis dan Kurator )

“Ngapain yang mudah dibikin susah..”

“Buang-buang waktu aja..”

“Gitu aja kok repot..”

Daftar keluhan mengenai kesia-sian dalam proses dan waktu kerja dapat terus memanjang. Hal ini menandakan bahwa dalam hasrat kita semua, proses dan waktu kerja sebaiknya menjadi lebih cepat. Efisiensi tercapai jika hasil kerja pun bagus dan mampu mengganti biaya produksi dan melipatgandakan keuntungan. Yang penting cuan —begitu dalam ungkapan yang kerap digunakan hari ini.

Perwujudan dari hasrat ini adalah otomatisasi yang sudah marak di berbagai sektor industri. Otomatisasi tidak hanya terjadi di pabrik, sebagai penggantian tenaga manusia ke mesin. Proses otomatisasi pun terjadi di wilayah manajemen organisasi dan institusi. Beragam standar prosedur operasi dibuat untuk memperlancar (baca: mempercepat) kerja. Konflik dan gesekan antar manusia diminimalisir dengan relasi sosial yang teregulasi di lingkungan kerja. Kemelesetan sebisa mungkin ditekan.

Prioritas atas efisiensi juga dapat ditemukan dalam proses berkesenian. Ini bukan hanya soal menciptakan proses kerja yang cepat dengan untung berlipatganda. Berbagai unit kerja diciptakan dengan tugas memfasilitasi kelancaran dalam proses kerja Sang Seniman, mulai dari artisan, asisten, manajer, bendahara, hingga para pemagang. Sang Seniman menjadi sebuah unit pencipta gagasan yang kemudian akan dikirimkan ke unit-unit kerja lainnya —asisten, artisan, dsb— untuk diproses hingga menjadi karya seni. Ini adalah mesin produksi seni yang berjalan di skeitar kita. Tentu saja karya seni ini akan bernilai tinggi dan tidak mampu dimiliki oleh unit-unit kerja yang memproduksinya. Kondisi serupa terjadi di pabrik-pabrik yang memproduksi benda yang tidak dapat diakses pekerjanya, seperti smartphone.

Nilai dari karya seni diciptakan tidak semata-mata dari alih wujud material, tapi melalui proses kognitif dan afektif yang kemudian menjadi komoditas dan memfasilitasi proses akumulasi keuntungan di tangan tertentu —sebagai salah satu moda ekonomi kapitalis.

Ini semua bukan proses yang saklek dan pasti terjadi di mana pun. Moda kerja dan penciptaan nilai yang berbeda masih dapat ditemukan ketika seseorang melakukan apa yang tidak biasanya. Argumen saya: Doli sedang berada di patahan itu.

Saya berbincang dengan Doli di sebuah sore, di tengah kesibukannya dari dan menuju ArtJog. Walau sudah mengenal Doli selama 12 tahun, saya tidak terlalu mengetahui kabarnya atau perkembangan praktik artistiknya. Ketika saya tanya apa ia sedang mempersiapkan karyanya di ArtJog, ia menjawab tidak. Di ajang pasar seni terpopuler tersebut, Doli bertanggung jawab untuk Afdruk 56, sebuah kamar gelap mobiledari Ruang Mes 56. Bersama dengan Afdruk 56, Doli kerap kali membuat lokakarya untuk mencetak foto di kamar gelap.

Perbincangan kami pun berlanjut dengan penelusuran perkembangan praktik artistik Doli selama ini. Doli bercerita bahwa sebagai seniman, ia merasa karirnya berjalan sangat lambat. Semenjak dua anaknya lahir, Kemangi dan Serai, Doli bersama Ipiet, istrinya yang menjalankan bisnis busananya, harus membagi waktu antara mengurus anak, bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga, dan terlibat dalam kolektif seni Ruang Mes 56. Hal-hal yang lazimnya terkait dengan pengembangan karier individu kesenimanan menjadi prioritas entah nomer berapa. Alhasil menurut Doli, salah satu implikasinya adalah ia jarang membuat pameran tunggal dan menyandang titel sebagai seniman yang tidak produktif.

Akantetapi Doli menggarisbawahi dua aspek penting dalam praktik artistiknya, yaitu kelambatan dan keintiman. Keintiman dibangun dengan membutuhkan banyak waktu dan kelambatan adalah motornya. Karya-karya Doli kerap melibatkan orang-orang di sekitarnya, sebagai obyek karya (misal seri Animal Mask Collection, 2009) maupun yang sekedar meminjamkan alat atau properti (seri Green Hypermarket, 2012). Hubungan dengan orang-orang di sekitarnya dan pertukaran gagasan di antaranya, tentu tidak dibangun dalam waktu yang singkat.

Dalam seri karya yang dipamerkan kali ini, Raw Power, Doli memperlihatkan nilai dari kelambatan dan keintiman sebagai teknik pengolahan material, bukan hanya moda penciptaan relasi sosial. Sejak beberapa tahun belakangan ini, Doli mulai memperhatikan alat yang digunakan oleh pekerja-pekerja di berbagai tempat di sekitarnya, mulai dari bengkel motor, bengkel kerja seniman, tukang kayu hingga dapur di sebuah restoran/ruang seni.

Bagi Doli, alat kerja diciptakan untuk membantu kerja tangan dengan segala keterbatasannya. Berbekal alat kerja, bahan-bahan mentah dapat diolah menjadi produk yang bernilai lebih tinggi. Produk kemudian akan dipasarkan, dibeli dan dikonsumsi. Sedangkan alat kerja tetap berada di tangan para pekerja yang kemudian memproduksi komoditas-komoditas selanjutnya. Doli meminjam alat-alat dari tangan para pekerja dan melakukan studi material atas benda tersebut. Studi dilakukan dengan menjadikan alat kerja sebagai obyek untuk proses fotogram. Dalam proses fotogram, obyek diletakkan di atas kertas yang peka cahaya, lalu disinari dan diproses dengan cairan kimia. Hasil dari proses ini adalah siluet benda-benda ini dalam warna putih dengan hitam sebagai latar belakangnya. Kemelesetan adalah kondisi material di mana kontrol manusia menemukan batasnya.

Walau terdengar sederhana, proses penciptaan komposisi dalam fotogram memakan banyak waktu di kamar gelap dan terbatas hanya pada bidang kertas 3R (8,9 x 12,7 cm). Kesempurnaan yang mutlak sesuai dengan harapan si pencipta, harus terus dinegosiasikan dengan kondisi material. Komposisi gambar yang besar dalam fotogram dibuat dengan menyusun dan menggabungkan kertas-kertas 3R. Hasil penggabungan ini tidak dapat “sempurna” karena dilakukan di dalam kamar gelap. Alhasil ada jejak garis putih di antara kertas-kertas yang digabungkan. Jenis material yang tersedia untuk teknik fotogram pun terbatas, sehingga kualitas gambar fotogram tidak dapat sehalus hasil cetak digital.

Di tengah keterbatasan material ini, Doli tetap gigih untuk terus menggunakan teknik fotogram. Kenapa ini disebut kegigihan? Teknologi kamera semakin canggih. Resolusi foto yang dihasilkan memiliki kejernihan dan detail yang tinggi hingga menyerupai realitas, bahkan menjadi realitas baru. Proses cetak pun semakin cepat dan murah. Lalu apa pentingnya melakukan fotogram di masa sekarang? Mengapa harus melihat foto siluet alat-alat kerja ketika di internet kita dapat menemukan foto berwarna dengan resolusi tinggi dari obyek tersebut?

Doli percaya pada potensi produksi pengetahuan baru dengan kembali berkutat pada teknologi “purba” fotografi macam fotogram. Teknologi digital tidak menggantikan analog. Keduanya justru berjalan beriringan dan menyuguhkan nilai yang berbeda satu sama lain. Fotogram merupakan satu metode untuk mempelajari obyek melalui bayangan dan kontur.

Dalam proses produksi seri Raw Power, Doli menghabiskan banyak waktu dengan alat-alat kerja ini, untuk menangkap bayangan, mempertegas bentuk, dan menampilkan kreativitas para pekerja melalui alat-alat kerja yang mereka ciptakan. Contohnya di satu gambar, kita bisa menemukan sebuah alat dengan palu di satu ujung dan kunci inggris di ujung lainnya.

Di tangan pemiliknya, benda-benda ini mungkin dengan mudah digeletakkan di lantai atau diganti dengan yang baru ketika sudah rusak. Namun di tangan Doli, alat-alat kerja ini diperlakukan dengan hati-hati dan ditata satu persatu. Menurut Doli, ada keintiman antara alat-alat kerja ini sebagai obyek fotogram dengan dirinya sebagai pencipta.

Beragam alat masak bersanding dengan alat cukil, alat lukis, dan alat bengkel. Sekilas tidak ada yang menghubungkan benda-benda ini, terkecuali bahwa mereka adalah alat kerja. Mereka berasal dari proses kerja yang berbeda-beda. Tapi dengan melihat alat-alat ini dalam komposisi yang sama, sebuah kondisi pun muncul ke permukaan dan tersuguh di hadapan kita. Di masa yang didaulat sebagai era ekonomi perngetahuan, kerja berbasis material tetap menjadi tulang punggung kerja imaterial walau kerap kali ia tidak terlihat karena dikerjakan di ruang tersembunyi seperti dapur atau bengkel. Kerja-kerja ini pun dilakukan oleh para tukang, yang disebut hanya menjalankan perintah (baca: ide) dari atasannya.

Namun seperti kepercayaan pada potensi pengetahuan dalam proses penciptaan foto yang lambat dan purba seperti fotogram, Doli pun meyakini ada sesuatu yang tersimpan dalam alat-alat kerja dan kisah para pekerja yang menggunakannya. Sesuatu itu mungkin adalah soal siasat untuk mengatasi keterbatasan atau mempersoalkan mengapa kerja material kerap dianggap rendahan. Mungkin ini juga soal mengembangkan praktik artistik yang tidak melulu soal karir, kecepatan, atau kesuksesan. Ini soal pengembangan praktik sebagai sesuatu yang terus menerus dilakukan, melalui keterhubungan dengan orang sekitar dalam cara yang tidak biasanya (meminjam alat, bicara soal kerja).

Doli berkata bahwa ia akan terus berbicara dengan para pekerja, meminjam alat kerja mereka dan mengabadikannya dalam teknik fotogram. Entah apa yang akan didapatkannya. Yang pasti ini soal melihat ke tempat-tempat yang jarang dilihat, menemukan batasan atas apa yang bisa dilihat, dan menemukan berbagai keterhubungan baru. Inilah seninya menambah-nambah pekerjaan, seperti yang Doli sedang lakukan.

 

“Why should we exaggerate simple stuff…”

“What a waste of time…”

“What an unnecessary effort…”

What a list of lamentation for such full-lengthwork progress and time. This somehow indicates that we have tendencies to desire quickwork progress and an applicable timeline. Efficiency is accomplished by a good work result and by the capability of paying the production fee as well as doubling the profits. Money is all that matter –a perpetually famous saying. 

The embodiment of this desire is the automation which has been famously applied by various industrial sectors. Automation does not only occur at the factory as a replacement of human power to machines. The automation process also occurs in the managementof an organizationand institution area. A number of standard operating procedures are made to expedite (read: accelerate) the work. Conflicts and frictions between humans are minimized by a regulated social relationshipwithin the work environment. Misbecoming is highly anticipated.

Priority on efficiency also can be found in the art practice. This is not only a matter of creating a vast yet profiting progress of work. Every work unit is made to facilitate the continuity of the work for the artist –starting from the artisan, the assistant, the manager, the treasurer even the intern. The artist has become a unit of idea creation which will then distributed to other work units –assistant, artisan, etc. to be processed into works of art. This is an art production machine that runs around us. This artwork will obviouslycontain an eminent value which cannot be owned by other work units who help to produce it. Similar occasion also occurs in factories that produce objects which is inaccessible for the workers, i.e. smartphone. 

The value of art is not created merely from the material transformation, yet through a cognitiveand affective process which then become the commodity which facilitatesthe process of profit accumulation by particular party –as one of the capitalist economy modals.

This is all not a fixed process and this definitely occurs everywhere. Different modes of work and the creation of value can still be found even when someone is working on something outside her/his usual work. My argument is: Doli is posed in that state.

I had a conversationwith Doli amidst his tight schedule approaching ArtJog. Although I have known Doli for 12 years now, I do not really know how he is doing or his artistic development. When I asked if he was preparing for his work at ArtJog, he answered no. At the most popular art market arena, Doli is responsible for Afdruk 56, a mobile darkroom presented by Ruang Mes 56. Together with Afdruk 56, Doli often organizes workshops of printing photos in the darkroom.

Our conversation then continued with tracing the development of Doli’s artistic practices. Doli said as an artist, he felt his career is going slowly. Since his two children were born –Kemangi and Serai, together with his wife, Ipiet who runs her own fashion business, they work together to take care of their children. He spares his time to work to provide his family and to involve in a collective art of Ruang Mes 56. Matters that are related to the development of his art career have become the least priority. As a result in accordance withDoli, he no longer often runs a solo exhibition and thus he bears a title of being an unproductive artist. 

However, Doli underlined two important aspects ofhis artistic practice: slowness and intimacy. Intimacy is built by requiring a lot of time and being slow is the motor. Doli’s artworks often involving the people around him as the object of his work (such as Animal Mask Collection series, 2009) even borrowing tools or properties (Green Hypermarket series, 2012). The relationship with other people around him along with the exchanging ideas isdefinitely not made in a short time. 

In his series this time, Raw Power, Doli shows the value of slowness and intimacy as a material processing technique, not just a mode of creating social relations. Since the past few years. Doli has begun to pay attention to the tools used by the workers in various places around him. Ranging from the motorbikerepair shop, artist workshop, carpenter workshop to kitchens in a restaurant/art space.

For Doli. Working tools are made to help the handwork beyond all its limitation. Armed with working tools, raw materials can be processed into products with a higher value. The product is then sold and consumed by the market. While the working tools remain in the hands of the workers who then continue to produce futures commodities. Doli borrowed the tools from the works and conducted a study toward the objects. The study was conducted by making the working tools an object for the photogram process. In the photogram process, the object is placed on a light-sensitive paper, then irradiated and processed with chemical liquids. The result of this process is the whitesilhouette of the objects with black as the background. A flawis a condition of a material in which human control its limits.

Even though it sounds simple, the process of creating compositions within photograms consuming a lot of time inside the darkroom, and is limited to 3R (8,9 x 12,7 cm) paper only. Absoluteperfection in accordance with the creator’s expectationsmust continue to be negotiated with the condition of the material. The large composition of the image is then arranged and combined with other 3R papers. The output could not be ‘perfect’ since it is done inside the darkroom. The type of the material available for photogram techniques is also limited, therefore the quality of photogram images cannot be as fine as digital prints. 

Among its limitations of this material, Doli remains persistent to keep using the photogram technique. Why is this called persistence? The technology of camera has enormously developed. Photo resolution produced by the camera has a highquality of clarity and amazing detail that resemble the real, even creating a new reality. The printingprocess is even faster and cheaper. Then what is the importance of doing a photogram technique in present time? Why would we watch images of silhouettes when we could just browse for a high-resolution image of the objects?

Doli believes in the potential production of new knowledge by dwelling on ‘ancient’ photographic technology like a photogram. Digital technology does not replace the analog, both of them actually gohand in hand, presenting different values to each other. Photogram is a method for studying objects through shadows and contours. In the production process of Raw Power series, Doli spends a lot of his time with the working tools –capturing their shadows, underlining the shape and displaying the creativity of the workers through the tools they created. For example in one picture, we can see a tool with a hammer at one end and a wrench at the other end.

In the hands of the owner, these working tools might be easily placed on the floor or replaced with new ones once they are no longer useful. But in the hands of Doli, these tools are made carefully and arranged one by one. According to Doli, there is an intimacy between these working tools as the object of photogram and to themselves as the creator.

Various cooking tools displayed side by side with chisels, painting tools, and workshop tools. At first glance,there is really nothing connected between these objects unless they are working tools. They come from a differentwork process. But by seeing these tools in the same composition, a condition emerges to the surface and is presented before us. In this so-called economic era of knowledge, material-basedwork remainsas the backbone of immaterial work even though it is invisible because it is done in a hidden room such as a kitchenor workshop. These works are performed by the craftsmen, who are said to only carry out orders (read: ideas) from their boss/superiors.

Just like having faith in potential knowledge within the process of a slow photo creation like a photogram, Doli believes that there is something stored in the borrowed working tools along with the stories of the workers. That might be a matter of tactics to overcome limitations or to question why material work is often considered as inferior. This might also be a matter of developing artistic practices which are not merely a matter of career, speed, or success. It is a matter of developing practice as something which continually performsby connecting with other people in an unusualway (borrowing tools, talking about work).

Doli said that he will continue to talk with the workers, borrowing their tools and commemorating them in photogram technique. I wonder what he will get. One for sure is that it is a matter of seeing places that are rarely seen, finding the limits on what can be seen, and discovering the newrelationship. This is the art of putting on more work, exactly like Doli is doing. 

 

 

 

E-Catalog Download

https://drive.google.com/file/d/11tb7I25SV0tIz5hYcoNKGiq3axzDo_EY/view?usp=sharing

 

 

 Photo Credit: Doc Artspace @Helutrans, Ipiet